SELAMETAN DI KABUPATEN KUDUS

PENDAHULUAN

             Kudus adalah suatu daerah dipesisir utara jawa yang terletak disebelah timur kabupaten demak,yang terkenal penyebaran Islam dilakukan oleh Sunan Kudus.

            Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam dijawa dan khususnya di daerah Kudus agak berbeda dengan cara yang dilakukan oleh sunan kalijaga karena Sunan Kalijaga dakwah dengan pola Islamisasi jawa, sedangkan sunan Kudus dengan pola berusaha menyebarkan Islam dengan ajaran yang murni benar-benar dari ajaran Islam.

            Akan tetapi walaupun sunan Kudus menyebarkan Islam dengan ajaran yang murni benar-benar dari ajaran Islam adanya tradisi selametan masih ada juga yang tetap dilakukan oleh sebagian kecil didaerah di wilayah Kudus

Selametan adalah suatu kata yang tidak asing lagi bagi orang jawa, sebab sudah menjadi tradisi di hampir setiap ada hajatan ,terutama dipedesaan-pedesaan .

Pada makalah ini akan mengungkapkan tentang Selametan,Pengertian Selametan,Sejarah Selametan,dan Hukum Selametan,Kemudian Fenomena Selametan yang ada di kabupaten Kudus ,karena saya (Penulis) berasal dari Daerah tersebut.

         Tema ini sangat menarik untuk dikaji karena kegiatan acara Selametan ini adalah ber nuansa  Islami akan tetapi di negeri Arab Saudi acara Selametanan yang dikemas seperti yang ada dijawa ini tidak ada,padahal disana adalah sumber Islam.Kenapa ini bisa terjadi ? maka kita perlu menelusuari asal muasalnya.

 PENGERTIAN SELAMETAN

 Kata Selametan seacara bahasa adalah dari bahasa Arab yang berarti selamat. Sedangkan Kata Selametan secara istilah adalah Upacara Ritual Doa bersama yang diawali Serangkaian  kalimat-kalimat Thoyyibah atau Tahlil,Tahlil adalah Serangkaian bacaan-bacaan kalimat Thoyyibah Yang di awali ”Ilaa hadroti Nabi muhammad,lalu Ulama,Mukminiin mukminat para Leluhur,atau Arwah Pendahulu” kemudian pembacaan surat Fatihah,S.Ikhlas., ,S.Al-Falaq, S.An-Nas ,S.Fatihah,Pembacaan awal S.Al-baqoroh,Pembacaan Ayat Qursi,lalu bacaan-bacaan dzikir( Istighfar,TasbihTahmid,takbir Selametan,dan sholawat) dan diakhiri Do’a.

Selametan biasanya dipimpin oleh seorang ulama’( Kyai, Modin/lebai,Ustadz,Sesepuh masyarakat) pada suatu acara-acara tertentu yang kadang dinamakan Kenduren atau Selamatan,[1] seperti:

1.Acara setelah kematian seseorang,selama 7 malam.kemudian Selametan lagi dihari ke-40 hari setelah meninggal(Matang puluh dino )dan hari ke-100( Nyatus),serta setahunnya (Sependak)dan Ke-1000(Nyewu).

2.Acara sedekah desa

3.Acara pada malam menjelang pernikahan

4.Selametan anak 4 bulan atau 7 bulan dalam kandungan sedangkan setelah kelahiran adalah dengan pembacaan sholawat Nabi atau perjanjen dan Do’a.

5.Tasyakuran Panen,atau ketika diangkat menjadi pegawai

6.Selametan membangun Rumah atau pembelian barang berharga: Motor Mobil ,dll

 Sejarah adanya Selametan di Jawa

            Sebelum Islam datang dijawa Upacara-upacara  atau ritual seperti keterangan diatas adalah sudah ada sejak nenek moyang beragama Hindu- Budha, akan tetapi bacaan- bacaan yang dibaca bukan Selametan, tetapi bacaan yang bernafaskan Hindu –Budha serta berbentuk sesaji-sesaji kepada dewa- dewa mereka .

            Setelah Islam datang di Jawa yang dibawa oleh para Wali Songo pada abad XV dengan pendekatan yang Arif dan bijaksana dan lewat seni budaya (pewayangan,dan Tembang-tembang Jawa) yang disisipi nilai-nilai Islam sehingga banyak penduduk Jawa banyak yang tertarik dengan ajaran Islam sehingga banyak yang kemudian memeluk Agama Islam ,yang asalnya adalah beragama Hindu- Budha  .

            Setelah masyarakat jawa banyak yang memeluk Islam,dipandang oleh para Wali songo dirasa sulit atau bahkan apabila menghilangkan Tradisi upacara ritual  warisan nenek Moyang malah akan membuat tidak suka kepada para wali,karena adanya anggapan bahwa apabila upacara ritual tersebut tidak dilakukan maka takut kalau akan terjadi suatu Musibah atau bala’,maka kegiatan upacara ritual tersebut tetap dilakukan akan tetapi bacaan-bacaan dalam ritual bernuansa Islami,dan hal-hal yang bernuansa hindu budha di hilangkan.

            Adanya interelasi budaya Hindu-Budha dengan Islam yang oleh para Ulama Islam menjadikan mereka harus bisa Selektif mana yang boleh dilaksanakan dan mana yang harus ditinggalkan karena bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

 HUKUM SELAMETAN MENURUT ISLAM

Mengenai pengertian Selametan yang secara bahasa berarti Selamat .Sedangkan mengenai pengertian Kata Selametan yang secara istilah adalah suatu doa bersama untuk minta keselamatan kepada Allah Swt,dari bencana atau bala’.Maka Hal ini hukumnya adalah sunnah,sebagainama Firman Allah( Surat Al-Mukmin:60) sbb:

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم 

Artinya:“Dan Tuhanmu  berfirman : Berdoalah kepadaku ,niscaya akan kuperkenankan bagimu.”

Terlebih lagi Selametan diawali dengan kalimat-kalimat Thoyyibah Yang di awali ”Ilaa hadroti Nabi muhammad,lalu Ulama,Mukminiin mukminat para Leluhur,atau Arwah Pendahulu” kemudian pembacaan surat Fatihah,S.Ikhlas,S.Al-Falaq, S.An-Nas ,S.Fatihah,awal dari S.Al-baqoroh,kemudian pembacaan Ayat Qursi,lalu bacaan-bacaan dzikir ( Istighfar ,Tasbih, Tahmid,takbir Selametan,dan sholawat) dan diakhiri Do’a, maka bacaan – bacaan ini Hukumnya adalah Sunnah( Di Anjurkan dalam Islam),karena bacaan ini termasuk Dzikir kepada Allah,maka ini diperintahkan sebagainama Firman Allah (surat Albaqoroh:152)sbb:

 

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

Artinya:

152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Mengenai yang mengatur bacaan tersebut adalah para Ulama’dalam menggantikan bacaan-bacaan yang bernuansa non Islami agar sesuai dengan ajaran Islam,yang mana memang di Negeri Arab urutan bacaan seperti ini tidak ada.Urutan bacaan Ini adalah Bid’ah Hasanah.

   Bid’ah ada dua macam yakni Bid’ah Hasanah dan bid’ah Sayyiah. Pengertian Bid’ah adalah suatu hal yang baru, yang mana dizaman nabi Muhammad Saw  tidak ada .Hasanah secara bahasa artinya adalah baik ,sedangkan yang dimaksud hasanah di sini adalah bahwa tidak ada dalil yang melarang atau menganjurkannya.Sedangkan Sayyiah secara bahasa artinya adalah Jelek,sedangkan Sayyi’ah yang dimaksud disini adalah bertentangan dengan ajaran Islam maka ini dilarang dalam Islam ,Hal ini adalah sebagaimana yang disabdakan Oleh Rasulullah dalam hadist berikut:

  ( الحديث الخامس )
عن أم المؤمنين أم عبد الله عائشة رضي الله عنها ، قالت : قال رسول الله صلي الله عليه وسلم : (( من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد )) . رواه البخاري [ رقم : 2697 ] ، ومسلم [ رقم : 1718 ] .
وفي رواية لمسلم : (( من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد ))

Artinya:”Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah  r.a.dia berkata:Rasulullah Saw telah bersabda:Barang siapa yang membuat hal baru dalam urusan Agama( Islam) kami ini yang mana hal tersebut tidak ada dalam ajaran agama( Islam) maka hal itu ditolak.(H.R. Bukhori dan Muslim)

Dan dari Riwayat Muslim: Barang siapa berbuat (beramal) yang mana amal perbuatan itu tidak ada dalam tuntunan agama kami(Islam) ini maka amal itu ditolak (tidak diterima)”[2].

            Sekarang sudah Jelas bahwa Hukum Acara  Selametan Hukumnya Sunnah tidak wajib.terlebih lagi apabila dikaitkan pada acara-acara tertentu ,yang mana kegiatan itu yang dianggap  agak memberatkan masyarakat adalah penyajian hidangan dan berkat.maka bagi yang mampu melaksanakannya itu adalah hal yang baik karena bisa memberi makanan/ hidangan kepada para fakir miskin.akan tetapi bagi yang tidak mampu boleh tidak melaksanakannya,atau melaksanakan dalam skala kecil.dan itu sudah di ketahui oleh myoritas muslim dijawa,tapi masalahnya adalah kadang yang tidak mampu merasa Gengsi,sehingga hutang sana-sini untuk melaksanakan acara tersebut,sehingga memberatkan padahal hal seperti ini makruh atau sampai tidak di perbolehkan dalam Islam sebagaimana dalam al-Qur’an  Surat (Al- Baqarah:286) sbb :

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت

Artinya:

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.

            Didalam Acara Selametan biasanya ada pemberian hidangan dan pemberian berkat (makanan yang dibawa pulang) maka ini termasuk shodaqoh,dan ada keterangan dari hadist Rasulullah Saw bahwa sodaqoh adalah suatu amalan yang bisa meredam murka Allah,maka menjadikan Allah tidak menurunkan adzab-Nya atau bala’.sehingga pada kaum atau orang yang mengadakan Selametan menjadi selamat tidak mendapat suatu musibah.

 Fenomena Selametan di kabupaten Kudus

             Oleh para ulama di Kabupaten Kudus  yang mana mereka mengetahui betul bahwa tradisi Selametanan di Negri Arab Saudi tidak ada maka kegiatan ini oleh masyarakat Kudus ada yang   tidak melaksanakan ( karena mereka berpendapat acara ini tidak diwajibkan dalam Islam tapi ada juga yang  tetap melaksanakan .

            Bagi yang melaksanakan mereka berpendapat karena tradisi ini banyak nilai-nilai positifnya,yaitu pembacaan pembacaan surat Fatihah,S.Ikhlas,S.Al-Falaq, S.An-Nas ,S.Fatihah,Pembacaan awal S.Al-baqoroh, Pembacaan Ayat Qursi,lalu bacaan-bacaan dzikir( Istighfar,TasbihTahmid,takbir Selametan,dan sholawat) dan diakhiri Do’a.yang amalan ini besar pahalanya.dan bagi yang mampu ada pemberiaan Hidangan dan berkat( makanan dibawa Pulang) ini adalah Shodaqoh.Bagi yang Fakir miskin mau mengadakan atau tidak sudah maklum bahwa Selametanan tersebut tidak wajib dilakukan .

 

 ANALISIS

            Pada Zaman sekarang ini (Zaman Modern)hal-hal yang baik yang mengandung nilai-nilai Islam banyak yang ditinggalkan oeh generasi muda ,Seperti:mengaji Alqur’an bakda magrib,malas berjamaah di masjid,malu memakai sarung dan peci,atau malu berilbab,yang banyak diganti dengan perayaan Ulang Tahun Ala Barat( Kristen) maka hal-hal yang baik apalagi mengandung nilai-nilai islam ,maka warisan tersebut harus kita lestarikan dan kita jaga.

 

PENUTUP

 

                   Sebagai muslim dianjurkan oleh Allah swt untuk amar ma’ruf nahi munkar,maka hal-hal yang baik warisan nenek moyang harus kita lestarikan ,dan hal-hal yang munkar (yang bertentangan )dengan islam menjadi tugas setiap muslin untauk meninggalkannya dan menghilangkannya.sebagaimana Firman Allah Swt:

ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون

Artinya:” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[217]; merekalah orang-orang yang beruntung.’’[3]

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

M. Darori Amin Drs,H. MA.Islam dan Budaya Jawa,Gama Media.2000

Departemen Agama ,Al-Qur’an dan Terjemahnya ,Semarang: CV Adi Grafika

Al-Imam Nawawi.Terjemah Hadis Arbain Nawawi.Percetakan Al-Hamiidi ,Tahun

  2001 M/1422H dari Penerbitan Departemen Agama dan bimbingan islam

 


[1] M. Darori Amin Drs,H. MA.Islam dan Budaya Jawa,Gama Media.2000.hal .130-133

[2] Al-Imam Nawawi.Terjemah Hadis Arbain Nawawi hadist ke-5.

[3] Departemen Agama ,Al-Qur’an dan Terjemahnya ,Semarang: CV Adi Grafika

Tentang satriaswaja

Hanya santri biasa yang ingin melihat dunia dalam naungan Islam Rahmatan Lil 'Alamiin
Pos ini dipublikasikan di Islam dan Budaya Jawa. Tandai permalink.

2 Balasan ke SELAMETAN DI KABUPATEN KUDUS

  1. saroh berkata:

    very good

    • kcpkiainws berkata:

      Matur nuwun, thank you, arigato gonzaimas, syukron katsiro….

      Moga bermanfaat, sering-sering mampir ya

Komentar Sahabat

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s